Rabu, 01 April 2015

Penguat Gandengan DC




A.    Penguat dengan dua transistor dihubungkan langsung
Gambar dibawah ini menunjukkan dua transistor npn yang digandengkan  langsung secara biasa, diamana kolektor transistor pertama dihubungkan dengan basis transistor kedua. Agar penguat bekerja dengan baik, yaitu mampu menghasilkan isyarat keluaran yang besar tanpa cacat, titik-q haruslah ditengah garis beban. Penguat dengan tegangan panjar seperti ini disebut penguat kelas-A.
Karena kedua  transistor berhubungan langsung, yaitu tanpa kapasitor penyekat DC, maka tegangan panjar pada satu transistor akan mempengaruhi tegangan panjar transistor yang lain. Agar transistor Q2 mendapat tegangan panjar kelas A, yaitu dengan titik kerja di tengah garis beban , maka VCE(q) untuk Q2 haruslah sama dengan 10 V, sehingga emitor Q2 mempunyai tegangan 10 V terhadap tanah. Oleh karena RE3 = 1 KΩ, maka IE(q)  untuk transistor  Q2  haruslah sama dengan 10 mA. Informasi ini diperlukan untuk menghitung hie2. Oleh karena kolektor Q1 berbeda satu VBE diatas emitor Q2 maka tegangan kolektor Q1 haruslah kira-kira 10.6 V.  selanjutnya ini berarti
Dan tegangan emitor transistor Q1 haruslah pada (RE1+RE2)IC1 (q)=0.5 V terhadap tanah.  Kemudian tegangan basis Q1 haruslah pada tegangan VB= VE + VBE =0.5 +0.^%= 1.15 V. nilai tegangan pada basis Q1 dapat juga kita hitung dari:
Untuk menganalisa perilaku penguat untuk isyarat kecil, maka dapat dihitung penguat tegangan pada frekuensi tengah.

B.     Tegangan Panjar Balikan
Suatu variasi rangkaian tegangan pancar untuk penguat dengan dua transistor yang digandengakan Pada rangkaian  tersebut, arus panjar Q1 diambil dari rangkaian pada emitor Q2. Misalan arus IC2 pada Q2 bertambah besar, tegangan DC pada titik a akan naik. Akibatnya, arus basis untuk Q1 akan bertambah besar, arus kolektor IC1 pada transistor Q1 akan bertambah besar dan tegangan DC pada kolektor C1 akan turun. Akibatnya, VBE pada transistor Q2 akan berkurang, mempengaruhi arus kolektor IC2 pada transistor Q2, dan tegamgan titik a kan turun. Tampak bahwa dengan tegangan panjar balikan rangkaian akan menekannya bila karena suatu hal tegangan pada titik a bertambah. Akibatnya dengan tegangan panjar seperti inidapat kita peroleh titik kerja yang mantap.

C.     Pelepas Gandengan
Pada gambar dibawah ini, resistor R3 dan kapasitor CD dipasang agar pengaruh tegangan isyarat pada transistor Q2 terhadap VCC karena hambatan dalam VCC tidak masuk kedalam rangkaian Q1. Apabila hal ini terjadi, maka dapat terjadi osilasi, yaitu keadaan dimana tanpa isyarat masukan terjadi isyarat keluaran. Osilasi ini biasa terjadi pada daerah frekuensi amat rendah, sehingga penguat akan menghasilkan isyarat yang mengeluarkan bunyi sseperti perahu motor. Osilasi semacam ini disebut osilasi perahu motor. Kombinasi R3 dan CD dipilih agar mempunyai tetapan waktu R3 CD yang amat rendah, sehingga tegangan syarat yang kembali melalui VCC ditekan serendah mungkin. Kapasitor  CD disebut kapasitor pelepas gandengan, yaitu melepaskan gandengan antara satu tahap dengan tahap berikutnya terhadap pengaruh isyarat pada a`rus dari VCC.

D.    Pasangan Darlington
      Karena penguatan tergantung pada harga β , maka memproduksi transistor dengan β yang tinggi banyak memberi keuntungan. Tetapi untuk maksud tersebut diperlukan lapisan yang sangat tipis pada daerah basis yang akan mengakibatkan transistor mempunyai tegangan dadal (breakdown voltage) rendah. Untuk mencapai maksud tersebut di atas bisa dilakukan dengan menghubungkan dua transistor yang biasa disebut dengan pasangan Darlington seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Pasangan transistor tersebut terdapat di pasaran dalam paket dengan ujung-ujung kaki E’, B’ dan C’.
Jika kita berasumsi arus masukan i seperti diperlihatkan pada gambar 14.10 dan menghitung arus yang mengalir, akan didapat penguatan efektif β=(IC’IB’).

  
Pasangan Darlington sering juga digunakan dengan arus emitor yang relative tinggi sehingga β2 relatif kecil; jika tidak Q1 mempunyai berarus rendah sehingga β1 bisa berharga kecil. Namun demikian dengan mudah kita mendapatkan
Kita mungkin berangan-angan dapat menghitung re dari arus emitor dari Q2. Namun demikian Q2 dikendalikan dari sumber (Q1) yang memiliki arus yang sangat rendah, karenanya memiliki hambatan keluaran yang tinggi. Oleh sebab itu harga re efektif pasangan Darlington diberikan oleh

Namun IE1=IE22 dan juga re12re2, dengan demikian harga re efektif diberikan oleh

Transistor pasangan Darlington banyak dimanfaatkan pada rangkaian pengikut emitor tenaga-tinggi, utamanya pada penguat daya audio.

E.     Hubungan npn-pnp dan pnp-npn
 Suatu bentuk gandengan langsung antara dua transistor tidak lain penguat gandengan langsung biasa. Perbedaannya hanya terletak pada transistor Q2 yaitu transistor pnp. Dioda D1 dan D2 adalah untuk penyedot arus ICO, agar tak menyebrang sambungan basis kolektor, yang akan menyebabkan titik kerja mudah berubah dengan suhu. Kombinasi pnp-npn seringkali digunakan sebagai satu transistor, Sifat transistor gabungan ditentukan oleh macam transistor pertamanya. Misalkan transistor pertama npn, maka kombinasi akan bersifat sebagai transistor npn pula. 

F.      Penguat Differensial
 Satu bentuk penguat gandengan langsung yang banyak digunakan dapat dilihat pada gambar 3 yaitu suatu bentuk penguat diferensial.
Penguat ini mempunyai dua masukan dan dua keluaran. Selisih tegangan isyarat antara kedua keluaran ini sebanding dengan selisih kedua isyarat pada masukan, jika penguatan tegangan kedua penguat sama. Ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
V01             = A1V1 dan V02 = A2 Vi2. Jika A1 = A2 = AV01 –V02    = A(Vi1-V12)
Atau Vod           = A Vid dengan Vod = V01 – V02  dan Vid­ = Vi1-V12
Penguatan A juga disebut penguatan diferensial. Oleh karena itu ada dua masukan dan dua keluaran, penguat diferensial seperti itu dikatakan mempunyai masukan berujung dua dan keluaran berujung dua. Penguat diferensial tersebut dikenal dengan nama penguat diferensial masukan berimbang dan keluaran berimbang.

Marilah kita tinjau perilaku penguat di atas untuk isyarat masukan diferensial
Vid­ = Vi1-V12. Agar lebih mudah dimengerti Vi2 dibuat tetap besarnya, misalnya sama dengan nol. Rangkaian menjadi seperti gambar 4a.
Jika Vid­ diperbesar, arus IE1 akan diperbesar pula. Akibatnya tegangan titik A akan naik, VBE(Q2) akan berkurang sehingga IE2 akan berkurang. Ini berarti iE 1 + 1E.2 = lE tetap besarnya. Oleh karena VA = iE RE - VEE, tegangan pada titik A tak dipengaruhi oleh isyarat diferensial. Dengan kata lain tegangan pada titik A mempunyai nilai tetap terhadap isyarat diferensiaL Dapatlah diartikan bahwa untuk isyarat diferensial, RE tak dilalui arus isyarat sehingga tidak muncul pada rangkaian setara isyarat kecil. Untuk isyarat diferen­sial pada suatu penguat diferensial dengan masukan berimbang dap keluaran ber­imbang rangkaian setara 
Dari gambar 4 tampak bahwa hambatan masukan Ri = 2hie dan hambat­an keluaran 
Penguatan arus adalah hfe, sehingga pengaturan tegangan adalah:

Untuk 1/hoe >> Rc maka
KV, dif  adalah penguatan tegangan untuk isyarat masukan diferensial.
dengan Kv,di adalah penguatan tegangan untuk  isyarat masukan diferensial.
1.      Penguat diferensial dengan keluaran tunggal.
Seringkali kolektor salah satu transistor dihubungkan langsung padA Vcc sehingga berada pada tanah ac. Penguat diferensial semacam ini mempunyai keluaran tunggal dan disebut pe­nguat diferensial dengan keluaran, tak berimbang.
Rangkaian setara penguat diferensial dengan keluaran tak berimbang
2.       Nisbah Penolakan Modus Bersama.
Misalkan kedua masukan penguat diferensial dengan masukan berimbang dan keluaran tak berimbang (keluaran tunggal) kita hubungkan satu dengan yang lainnya, dan dihubungkan dengan suatu cumber isyarat-isyarat yang bersama dihubungkan dengan kedua masukan penguat diferensial disebut isyarat modus bersama (common mode). Berapa besar tegangan isyarat keluaran untuk masukan modus bersama seperti itu? Jika penguatan tegangan Q2 sama dengan penguatan Q1 yaitu A, maka tegangan isyarat keluaran ialah
V0 = A (V1-V2)
Penguatan tegangan untuk isyarat modus bersama disebut penguatan modus  bersama (ACM). Secara ideal jelaslah penguatan modus bersama harus sama dengan nol (Ac,yr = 0). Dalam praktek ACM ≠ 0, tetapi bernilai lebih kecil dari penguatan diferensial.
Sehubungan dengan perilaku penguat diferensial terhadap isyarat modus ber­sama, prang mendefinisikan suatu besaran yang disebut nisbah penolakan modus bersama (Common Mode Rejection Ratio-CMRR), yang menyatakan bagaima­na penguat menolak isyarat modus bersama. CMRR didefinisikan sebagai nisbah penguatan diferensial terhadap penguat modus bersama atau CMRR.
Nisbah modus bersama (CMRR) seringkali dinyatakan dalam dB, yaitu
CMRR (dB) = 20 log A d if - 20 log A cm
CMRR (dB) = Adif (dB) -ACM (dB).
Nilai CMRR = 100 dB termasuk tinggi. Tak mullah dibuat penguat diferensial dengan CMRR sebesar ini. CMRR = 120 dB hanya dapat dicapai pads penguat diferensial hibrid, dimana komponen-komponen untuk penguat diferensial dibu­at agar mempunyai nilai yang sedekat mungkin. CMRR setinggi ini Bering diper­lukan pada panguat instrumentasi.
Agar lebih jelas, misalkan kita mempunyai penguat diferensial dengan CMRR = -100 dB, dan Adif = 100 = 40 dB, kits peroleh ACM = -60 dB = 10-3. Jadi andai­kan ada isyarat modus bersama dengan tegangan 10 V, misalnya oleh sebab dengung dari listrik PLN, maka pada keluarannya, akan ada tegangan isyarat (10 V) (10-3) = 10 mV.
Untuk membahas penguatan modus bersama digunakan penguat diferensial dengan isyarat modus bersama. Perlu kita perhatikan bahwa untuk isyarat modus bersama, titik pertemuan emitor kedua transistor tidak lagi berperilaku sebagai tanah ac.
Rangkaian setara untuk isyarat modus bersama ditunjukkan pada gambar 10.20
Gambar 3.7. (a) penguat diferensial dengan isyarat modus bersama; (b) Rangkaian setara penguat (a)
3.Penguat Gandengan Emitor.
Suatu modifikasi terhadap penguat di­ferensial adalah seperti dilukiskan pada gambar 10.22. Penguat semacam ini disebut penguat gandengan emitor (Emitter Coupled Amplifier). Penguat ini juga dikenal sebagai penguat diferensial dengan masukan tak berimbang dan keluaran tak berimbang. Penguat gandengan Or emitor ini mempunyai tanggapan frekuensi amplitudo yang lebar. Ini disebabkan karena penguat ini dapat dipandang sebagai suatu pengikut emitor Q1 yang dihubungkan dengan penguat basis ditampilkan Qz.
Penguat pengikut enutor Q1 mempunyai penguatan tegangan sebesar 0,5 bila ke­dua transistor yang digunakan identik, tak berpengaruh terhadap kapasitansi Cil. Selanjutnya penguat Q2 membentuk penguat basis ditanahkan dengan frekuensi potong atas yang tinggi. Berdasarkan sifat inilah, penguat gandengan emitor digunakan-untuk penguat daerah frekuensi radio
G.    Penguat kaskoda
Suatu bentuk penguat gandengan langsung yang dikenal sebagai penguat kaskoda Penguat kaskoda sering digunakan sebagai penguat RF (radio frequency) untuk memperkuat isyarat yang diterima oleh pesawat radio, televisi, ataupun aiat komunikasi radio yang lain. Penguat kaskoda memiliki tanggapan amplituda yang amat lebar. Ini dapat dicapai karena penguat kaskoda tak lain adalah suatu penguat emitor ditanahkan dengan penguatan tegangan satu, dihubungkan dengan penguat basis ditanahkan.
01eh karena Qr mempunyai penguatan rendah maka efek Miller tak terlalu berpengaruh terhadap kapasitansi ma­sukan Ql . Selanjutnya penguat Q2 adalah penguat basis ditanahkan yang mempunyai hambatan masukan rendah, sehingga frekuensi potong atas mem­punyai nilai tinggi Pada penguat frekuensi radio orang banyak menggunakan kaskoda FLY, seperti pada gambar 3.1010.26.
Persarnaan (10.3) adalah persamaan garis beban yang memberikan nilai
Vos( Q ~ untuk transistor Ql dan Q2.

Arus bolak-balik, hukum Ohm dan hukum Khirchoff



Pengertian Arus Bolak-Balik
Arus dalam listrik adalah muatan positif yang bergerak. Walau sebenarnya yang bergerak adalah electron (muatan negatif) .Dengan demikian kita bias buat grafik Perubahan Perbedaan Tegangan (V) terhadap Waktu. Untuk ujung A, perbedaan tegangan tidak berubah terhadap waktu. Begitu juga dengan ujung B. Bagaimana seandainya kutub positif dan kutub negative dari baterai tersebut berganti-ganti terhadap waktu? Misalnya pada waktu t1 ujung A adalah positif dan ujung B adalah negatif. Kemudian pada waktu t2 ujung A adalah negative dan B adalah positif. Dan siklus ini terus berlangsung sampai sumber listrik tersebut dimatikan. Inilah yang disebut arus bolak-balik kutub sumber listrik berganti-ganti tiap waktu.

Arusbolak-balik (AC/alternating current) adalah arus listrik dimana besarnya dan arahnya arus berubah-ubah secara bolak-balik. Berbeda dengan arus searah di mana arah arus yang mengalir tidak berubah-ubah dengan waktu. Bentuk gelombang dari listrik arus bolak-balik biasanya berbentuk gelombang sinusoida, karena ini yang memungkinkan pengaliran energi yang paling efisien.
Kalau pergantian kutub itu terjadi 60 kali dalam satu detik, maka dikatakan frekuensi sumber AC tersebut adalah 60 Hertz (seperti banyak dipakai di Amerika Serikat). Kalau pergantian kutub itu terjadi 50 kali dalam satu detik, maka frekuensi sumber AC tersebut adalah 50 Hertz (seperti banyak dipakai di Eropadan Asia termasuk di Indonesia). Tentu sekarang kita paham apa maksud “frekuensi arus PLN adalah 50 Hz”.
Karena perbedaan tegangan berubah-ubah setiap waktu, maka untuk praktis besarnya perbedaan tegangan arus bolak-balik dinyatakan dalam rms (root mean square, akar dari kuadrat rata-rata) perbedaan tegangan maksimum. Ini sebenarnya hanya permainan statistik, tidak mengandung fenomena fisis yang baru. Harga rms dari perbedaan tegangan bernilai perbedaan tegangan maksimum dibagi akar dua.
Bicara tentang kestabilan, tentu arus searah lebih stabil. Dan umumnya alat-alat elektronik beroperasi dengan arus searah. Hal ini boleh menjadi pertanyaan: kenapa kita memakai arus bolak-balik sebagai sumber listrik utama? 
Jawabannya adalah dipengaruhi factor ekonomi membuat sumber arus bolak-balik (generator) jauh lebih murah dari pada sumber arus searah. Untuk menjadikan arus bolak-balik menjadi searah tidaklah begitu sulit, walau hasilnya tidak setabil arus dari baterai tapi harga kestabilan ini dikompensasi sangat baik oleh biaya pengadaan sumber listrik.
Secara umum, listrik bolak-balik berarti penyaluran listrik dari sumbernya (misalnya PLN) kekantor-kantor atau rumah-rumah penduduk. Namun ada pula contoh lain seperti sinyal-sinyal radio atau audio yang disalurkan melalui kabel, yang juga merupakan listrik arus bolak-balik.
Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang mengalir dalam suatu penghantar per satuan waktu. Arus listrik mengalir karena ada beda potensial antara ujung-ujung kawat penghantar. Arus listrik mengalir dari potensial tinggi ke potensial rendah. Arus listrik ini disebut arus positif atau arus konvensional. Setelah J.J Thompson menemukan adanya elektron, orang menyimpulkan bahwa arus listrik adalah aliran elektron. Elektron mengalir dari potensial rendah ke potensial tinggi. Tetapi mengapa kita masih menggunakan arus konvensional? Hal ini karena di dalam kabel, arus elektron mengalir berlawanan dengan arus konvensional dan kedua arus ini sama besarnya, sehingga kita masih dapat menggunakan arus konvensional sebagai arus listrik.

Besaran Arus Listrik
I=
Q=I.t
Keterangan :
I = kuat arus (ampere / A)
Q = muatan (coulumb / C)
t = waktu (detik / s)
Pengukuran Kuat Arus

Untuk mengukur kuat arus listrik dalam suatu rangkaian tertutup digunakan ampermeter (ammeter), yang dirangkai seri dengan komponen listrik yang akan diukur kuat arusnya.
Sumber arus listrik dibedakan menjadi dua, yaitu sumber arus listrik bolak-balik
(AC) dan sumber arus listrik searah (DC). Sumber arus listrik AC dihasilkan oleh
dinamo arus AC dan generator. Ada beberapa macam sumber arus searah,
misalnya sel volta, elemen kering (baterai), akumulator, solar sel, dan dinamo arus
searah. Elemen volta, batu baterai, dan akumulator merupakan sumber arus searah
yang dihasilkan oleh reaksi kimia. Oleh karena itu, elemen volta, batu baterai, dan
akumulator sering disebut elektrokimia. Dikatakan elektrokimia sebab alat tersebut
mengubah energi kimia menjadi energi listrik.
Elemen dibedakan menjadi dua, yaitu elemen primer dan elemen sekunder.

 1.Elemen primer
Elemen Primer  adalah elemen yang setelah habis muatannya tidak dapat diisi    kembali.  Pada elemen primer, reaksi kimia yang menyebabkan elektron mengalir dari elektrode negatif (katode) ke elektrode positif (anode) tidak dapat dibalik arahnya. Itulah sebabnya elemen primer tidak dapat dimuati kembali jika muatannya sudah habis. Dengan kata lain, elemen primer merupakan sumber arus searah yang memerlukan penggantian bahan pereaksi. Jadi, elemen primer adalah sumber arus listrik yang tidak dapat diperbaharui lagi. Elemen primer ada dua jenis, yaitu: elemen basah dan elemen kering.

2. Elemen Sekunder
Elemen sekunder merupakan elemen elektrokimia yang dapat diperbaharui bahan-bahan pereaksinya. Elemen sekunder ini harus diberi muatan terlebih dahulu sebelum digunakan, yaitu dengan cara melewatkan arus listrik melaluinya.
GGL adalah beda potensial antara kedua ujung atau kutub sumber arus listrik saat sumber arus itu tidak terhubung ke rangkaian listrik, diberi lambang ɛ dan memiliki satuan volt. Sedangkan beda potensial antara kedua ujung atau kutub sumber arus listrik saat sumber arus itu mengalirkan arus dalam rangkaian listrik disebut tegangan jepit, diberi lambang V. Tentu saja, nilai tegangan jepit V berubah, tergantung pada nilai hambatan bebannya Makin besar nilai hambatan beban, makin kecil nilai tegangan jepitnya. Nilai tegangan jepit selalu lebih kecil dari GGL.

Contohnya elemen volta dan batu baterai. Elemen sekunder adalah elemen yang
setelah habis muatannya dapat diisi kembali. Contohnya akumulator (aki). Pada
elemen volta, baterai, dan akumulator terdapat tiga bagian utama, yaitu
a. anode, elektrode positif yang memiliki potensial tinggi,
b. katode, elektrode negatif yang memiliki potensial rendah,
c. larutan elektrolit, cairan yang dapat menghantarkan arus listrik.
Untuk lebih memahami prinsip kerja beberapa contoh elektrokimia, ikutilah uraian berikut.

1. Elemen Volta
Elemen Volta dikembangkan pertama kali oleh Fisikawan Italia bernama Allesandro Volta (1790-1800) dengan menggunakan sebuah bejana yang diisi larutan asam sulfat (H2SO4) dan dua logam tembaga (Cu) dan seng (Zn). Bagian utama elemen Volta, yaitu
a. kutub positif (anode) terbuat dari tembaga (Cu),
b. kutub negatif (katode) terbuat dari seng (Zn),
c. larutan elektrolit terbuat dari asam sulfat (H2SO4).

Lempeng tembaga memiliki potensial tinggi, sedangkan lempeng seng memiliki potensial rendah. Jika kedua lempeng logam itu dihubungkan melalui lampu, lampu akan menyala. Hal ini membuktikan adanya arus listrik yang
mengalir pada lampu. Ketika lampu menyala, larutan elektrolit akan bereaksi dengan logam tembaga maupun seng, sehingga menghasilkan sejumlah elektron yang mengalir dari seng menuju tembaga. Adapun, reaksi kimia pada elemen Volta adalah sebagai berikut.
. Pada larutan elektrolit terjadi reaksi H2SO4 → 2H+ + SO2–4
. Pada kutub positif terjadi reaksi Cu + 2H+ → polarisasi H2
Pada kutub negatif terjadi reaksi Zn + SO4 → ZnSO4+ 2e
Reaksi kimia pada elemen Volta akan menghasilkan gelembung-gelembung gas hidrogen (H2). Gas hidrogen tidak dapat bereaksi dengan tembaga, sehingga gas hidrogen hanya menempel dan menutupi lempeng tembaga yang bersifat isolator listrik. Hal ini menyebabkan terhalangnya aliran elektron dari seng menuju tembaga maupun arus listrik dari tembaga menuju seng. Peristiwa tertutupnya lempeng tembaga oleh gelembung-gelembung gas hidrogen disebut polarisasi. Adanya polarisasi gas hidrogen pada lempeng tembaga menyebabkan elemen Volta mampu mengalirkan arus listrik hanya sebentar. Tegangan yang dihasilkan setiap elemen Volta sekitar 1,1 volt. Penggunaan larutan elektrolit yang berupa cairan merupakan kelemahan elemen Volta karena dapat membasahi peralatan
lainnya.

2. Elemen Kering
Elemen kering disebut juga baterai. Elemen kering pertama kali dibuat oleh Leclance. Bagian utama elemen kering
adalah
a. kutub positif (anode) terbuat dari batang karbon (C),
b. kutub negatif (katode) terbuat dari seng (Zn),
c. larutan elektrolit terbuat dari amonium klorida (NH4Cl),
d. dispolarisator terbuat dari mangan dioksida (MnO2).

Untuk mengalirkan muatan listrik dari titik satu ke titik yang lain dalam suatu penghantar, diperlukan energi. Banyaknya energi yang dikeluarkan di antaranya tergantung pada besar kecilnya sebuah muatan yang dipindahkan, makin besar muatan yang dipindahkan, makin besar pula energi yang harus dikeluarkan, persamaan Energi ini disebut Energi Penggerak Listrik (EPL). EPL sering disebut Gaya Gerak Listrik, (GGL). Dengan kata lain bahwa GGL adalah energi yang dikeluarkan oleh sumber tegangan yang diperlukan untuk menggerakkan muatan listrik di dalam suatu rangkaian.
Telah dipelajari bersama bahwa arus listrik dapat mengalir dalam kawat penghantar jika antara kedua ujung-ujung penghantar itu terdapat beda potensial. Untuk dapat menimbulkan beda potensial diperlukan sumber tegangan. Ada dua jenis sumber arus listrik, yaitu sumber arus searah atau direct current (DC) dan sumber arus bolak-balik atau alternating current (AC). Sumber arus bolak-balik adalah sumber arus yang mengalirkan arus selalu bolak-balik. Contohnya generator dan dinamo arus bolak-balik. Sementara itu, sumber arus searah yaitu sumber arus yang mengalirkan arus kesatu arah saja. Contohnya batu baterai, aki, elemen Volta, dan dinamo arus searah. Sumber tegangan yang mengeluarkan energi listrik berdasarkan prinsip pasangan logam disebut sel atau elemen. Elemen ada dua jenis, yaitu elemen primer dan elemen sekunder.


a. Elemen Basah
·           Elemen Volta
Alessandro Volta (1745 – 1827) menemukan bahwa pasangan logam tertentu dapat membangkitkan GGL, gaya gerak listrik ini menyebabkan arus listrik mengalir dalam suatu rangkaian. Pasangan logam tersebut adalah Cu (tembaga) dan Zn (seng). Sumber tegangan pertama yang dapat mengalirkan arus listrik cukup besar adalah elemen Volta. Tegangan yang dihasilkan adalah 1,5 V. H2SO4 (asam sulfat) yang dipakai sebagai elektrolit akan terdisosiasi menjadi H+ dan SO4-2. Energi yang diperlukan untuk menggerakkan elektron-elektron dari elektroda Zn ke elektroda Cu dan jumlah energi per satuan muatan yang tersedia dari elemen Volta dinyatakan dalam satuan volt atau joule per coulomb.
Namun terdapat kelemahan, yaitu terjadi polarisasi pada batang tembaga. Polarisasi yaitu timbulnya gelembung-gelembung gas H2 pada kutub +. Adanya gelembung-gelembung ini dikarenakan gas hidrogen tidak dapat bersenyawa dengan Cu, akibatnya menghalangi jalannya aliran listrik sehingga lampu tidak menyala. Sebagai kutub positif (anoda) dalam elemen Volta adalah Cu sedangkan Zn sebagai kutub negatif (katoda) dan H2SO4 encer sebagai larutan elektrolit yang berakibat terdisosiasi menjadi ion 2H+ dan SO42-.

·                Elemen Daniell
Elemen Daniell merupakan modifikasi dari elemen Volta, yaitu dengan memperbaiki penampilan elemen. Untuk mencegah polarisasi gas hidrogen, elektrode dilindungi oleh larutan tembaga sulfat (larutan kimia) yang dinamakan depolarisator. Depolarisator (larutan tembaga sulfat) dipisahkan dari larutan elektrolit (asam sulfat encer) dengan bejana berpori sehingga ion-ion masih dapat lewat dari elektrode satu ke elektrode lainnya melalui larutan elektrolit da depolarisator. Bejana tembaga sebagai elektrode positif dan batang seng sebagai elektrode negatif.

b. Elemen Kering
Elemen kering atau baterai adalah sumber tegangan yang dapat lebih lama mengalirkan arus listrik daripada elemen Volta. Elemen kering dibuat pertama kali pada tahun 1866, kimiawan Perancis oleh George Leclanche.
Elemen kering ini terdiri atas Zn yang berbentuk bejana dan logam dalam Zn ini dilapisi karbon (batang arang). Karena batang arang memiliki potensial lebih tinggi daripada Zn, maka batang arang sebagai anoda, sedangkan Zn sebagai katoda.
Di bagian dalam elemen kering ini terdapat campuran antara salmiak atau amonium klorida (NH4Cl) serbuk arang dan batu kawi atau mangan dioksida (MnO2). Campuran ini berbentuk pasta yang kering. Karena elemen ini menggunakan larutan elektrolit berbentuk pasta yang kering maka disebut elemen kering.
Pada elemen kering, NH4Cl sebagai larutan elektrolit dan MnO2 sebagai depolarisator. Kegunaan dispolarisator yaitu dapat meniadakan polarisasi. Sehingga arus listrik pada elemen kering dapat mengalir lebih lama sebab tidak ada gelembung-gelembung gas.

Ø Mengukur GGL dan Tegangan
Voltmeter adalah alat untuk mengukur tegangan listrik. GGL dan tegangan jepit dapat diukur dengan menggunakan voltmeter.
Dalam menggunakannya, voltmeter harus dipasang secara paralel dengan sumber tegangan atau peralatan listrik yang akan diukur beda potensialnya (teganganya). Maksudnya, kutub positif voltmeter harus dihubungkan dengan kutub positif sumber tegangan atau alat listrik dan kutub negatif voltmeter harus dihubungkan dengan kutub negatif sumber tegangan atau alat listriK.
HUKUM OHM
            Diperlukan beda potensial agar arus listrik agar arus listrik mengalir dalam suatu rangkaian listrik tertutup. Beda potensial dapat dihasilkan dengan cara memberikan sumber tegangan baterai atau akumulator. Sekarang timbul pertanyaan, apakah keterkaitan antara kuat arus yang mengalir dengan beda potensial yang diberikan? Hasil eksperimen Georg Simon Ohm (1789-1854) menunjukkan bahwa arus (I) yang mengalir dalam suatu penghantar logam sebanding dengan beda potensial (V) dikedua dengan syarat suhu pengantar tetap. Pernyataan ini dikenal sebagai hukum Ohm.
                        I V
            Besarnya kuat arus yang mengalir dalam suatu rangkaian tidak hanya bergantung pada beda potensial tetapi ditentukan juga oleh hambatan kawat penghantar (R).Untuk beda potensial yang tetap, arus yang mengalir pada kawat penghantar yang memiliki nilai hambatan besar akan bernilai kecil. Jadi, kuat arus listrik berbanding terbalik dengan hambatan kawat penghantar. Jika dilakukan kombinasi antara kuat arus dan tegangan maka diperoleh hubungan
            I=  ; V=IR; R=
Persamaan ini dikenal sebagai hukum Ohm. Satuan hambatan listrik adalah Ohm dan diberi lambang . (1Ω = 1 )
Aliran listrik ditimbulkan oleh muatan listrik yang bergerak di dalam suatu
penghantar. Arah arus listrik (I) yang timbul pada penghantar berlawanan arah
dengan arah gerak elektron. Muatan listrik dalam jumlah tertentu yang menembus suatu penampang dari suatu penghantar dalam satuan waktu tertentu disebut sebagai kuat arus listrik. Jadi kuat arus listrik adalah jumlah muatan listrik yang mengalir dalam kawat penghantar tiap satuan waktu.
    segmen dari sebuah kawat penhantar berarus
Hukum Ohm menyatakan “ Kuat arus yang melewati suatu peranti selalu berbanding lurus drngan beda potensialnya”.

            Perlu ditekankan disini bahwa hukum Ohm tidak berlaku untuk setiap peranti atau komponen listrik. Ada peranti yang tunduk pada hukum Ohm, ada pula yang tidak. Penghantar adalah contoh komponen yang memenuhi hukum Ohm, sedangkan dioda adalah contoh komponen listrik yang tidak tunduk pada hukum Ohm.
            Hambatan suatu komponen listrik tidak tergantung pada polaritas dan beda potensial yang dipasang pada ujung-ujungnya.
            Perlu ditekankan bahwa persamaan V=Ir bukanlah hukum Ohm. Persamaan ini tidak lain adalah persamaan yang mendefinisikan hambatan yang dimiliki oleh suatu peranti, yaitu sebagai berikut. Besarnya hambatan R yang dimiliki oleh suatu peranti atau komponen listrik adalah suatu nilai ( umumnya bukan suatu tetapan) Sedemikian rupa sehingga jika V beda potensial yang dipasang pada ujung-ujung peranti atau komponen tersebut dan arus yang mengalir melaluinya i, persamaan V = Ir dipenuhi.
Suatu hasil percobaan pada table. Nilai kuat atus I dan tegangan V pada suatu
hambatan menghasilkan grafik seperti gambar. Hukum ohm tidak merupakan pernyataan universal,tapi hanyagambaran bagi sebagian materi tertentu yang mengikuti hukum ohm (komponen ohmik). Nilai hambatan R pada komponen ohmik konstan asal suhunya konstan. Materi yang tidak memenuhi hukum
ohm disebut komponen non-ohmik. Grafi I sebagai fungsi V untuk
komponen non.

HUKUM KIRCHOFF
Hukum khirchoof berbunyi  “Jumlah kuat arus listrik yamg masuk ke suatu titik simpul sama dengan jumlah kuat arus listrik yang keluar dari titik simpul tersebut”.

Hukum I kirchoff tersebut adalah hukum kekekalan muatan listrik seperti tampak di dalam analogi pada gambar. Hukum I kirchoff secara matematis dituliskan:
I masuk = ∑I keluar

Skema diagram untuk hukum khirchhoff
Rangkaian untuk menyelidiki kuat arus yang masuk dan keluar dari suatu titik simpul.
           

Hukum II Kirchoff tentang Tegangan pada Rangkaian Tertutup
Untuk menyederhanakan rangkaian yang rumit,dapat digunakan Hukum II Kirchoff yang berbunyi :
“Didalam sebuah rangkaian tertutup, jumlah aljabar gaya gerak listrik (_) dengan
penurunan tegangan (IR) sama dengan nol”.
Secara matematis dituliskan :
+∑(IR)=0
Dalam menyelesaikan persoalan di dalam loop perhatikan hal-hal berikut ini!
a. Kuat arus bertanda positif jika searah dengan loop dan bertanda negatif jika
berlawanan dengan arah loop.
b. GGL bertanda positif jika kutub positipnya lebih dulu di jumpai loop dan
sebaliknya ggl negatif jika kutub negatif lebih dulu di jumpai loop.
Misalkan kita ambil arah loop searah dengan arah I, yaitu a-b-c-d-a. (rangkain dengan satu loop)
Kuat arus listrik I di atas dapat ditentukan dengan menggunakan Hukum II
Kirchhoff: Σ ε + Σ IR = 0
– ε1 + ε2 + I (r1 + r2 + R) = 0
Jika harga ε1, ε2, r1, r2 & R diketahui maka kita dapat menentukan harga I-nya.
Rangkaian dengan dua loop atau lebih
Rangkaian yang memiliki dua loop atau lebih disebut juga rangkaian majemuk.
Langkah-langkah dalam menyelesaikan rangkaian majemuk ini adalah sebagai
Berikut:
Rangkaian dengan dua loop:



Aturan Hukum II Kirchoff :
1. Pilih loop untuk masing-masing lintasan tertutup dengan arah
tertentu. Pada dasarnya, pemilihan loop bebas, namun jika
memungkinkan usahakan searah dengan arus.
2. Jika pada suatu cabang, arah loop sama dengan arah arus, maka
penurunan tegangan (IR) bertanda positif, sedangkan bila berlawana
arah, maka penurunan tegangan (IR) bertanda negative.
3. Bila saat mengikuti arah loop, kutub sumber tegangan lebih
dahulu dijumpai adalah kutub positif, maka ggl _ bertanda positif,
sebaliknya bila yang lebih dahulu dijumpai adalah kutub negative,
maka ggl _ bertanda negative.